Minggu, 23 Juni 2013

Polisi Bejat, Mabuk dengan Wanita

0Share


OPINI
Oknum Polisi Berseragam Mabuk dengan Wanita yang gak jelas asal usulnya. Hmm…. di tengah citra polisi dan polri yang sedang terpuruk..  kok tambah kacau seperti ini..  Apa karena dia merasa polisi yang ditakuti oleh masyarakat karena seragam dan pistol yang selalu ditentang kemana-mana?
Cilakanya.. foto ini diambil dalam keadaan masih menggunakan seragam…. yayaya.. SERAGAM POLISI.. Almamater yang seharusnya dijunjung tinggi….  tolong cermati foto ini dan segera ditindak lanjuti atas apa yang telah dia lakukan .. jangan semakin mencoreng nama kepolisian…..
Gimana pendapat sahabat semuanya yang telah melihat foto ini ?
Mau dibawa kemana aparat penegak hukum kita ini ?

Polisi Minta Suap Turis Di Bali Tayang di TV Belanda



Benar-benar memalukan. Rekaman dari kamera tersembunyi tentang polisi Indonesia yang menerima suap ditayangkan SBS 6, sebuah televisi komersial di Belanda. Rekaman itupun sudah diunggah di Youtube dengan judul Korupsi Di Bali/ Corruption Police in Bali sejak 1 April 2013 lalu.

Dalam tayangan itu jelas terlihat betapa konyolnya Polisi Indonesia yang tidak terlihat pangkat dan namanya itu.

Kejadian itu bermula ketika seorang turis Belanda ditangkap karena naik motor tanpa helm. Kemudian oleh polisi dibawa ke pos polisi.

Mereka berbincang dalam bahasa Inggris dan polisi tanpa sadar turis itu membawa kamera tersembunyi,. Kemungkinan besar dia memang reporter yang menyamar.

Percakapan keduanya kurang lebih seperti ini



Polisi: Kamu tahu kesalahan apa?

Turis : hmmm

Polisi : (memegang kepalanya) helm. Kamutidak menggunakan helm.

Turis: Terus bagaimana

Polisi : Kalau kamu di pengadilan bayar sekitar Rp1,2 juta.

Turis : Wow

Polisi: Tapi kalau bayar di sini cukup Rp200 ribu.

Turis : 20 Dollar?

Polisi: Ya mungkin 200 dolar

Turis pun membayar.

Polisi: Siapa nama Anda

Turis : Van der Spek

Polisi: Van der Spek..dari Rusia?

Turis: Dari Netherland, Belanda

Polisi: Wow Belanda. Saya suka sepakbola Belanda (sambil bergaya bak pemain sepakbola). Oke urusan Anda selesai

Turis : Terus bagaimana nanti kalau ada polisi lagi

Polisi: Tidak masalah. Untuk hari ini tidak masalah. Anda bebas ke mana saja.

Turis : tanpa helm?

Polisi : Ya tanpa helm

Keduanya berjalan keluar pos. Jelas ada kamera lain dari jauh yang mengintai sehingga aktivitas terlihat jelas. Turis itu sudah naik ke motor tetapi justru berbincang-bincang yang akhirnya polisi justru mengajak minum bir. Mereka masuk lagi ke pos.

Polisi: Seratus ribu buat beli bir. Seratus ribu buat pemerintah saya. (Polisi keluar dan tidak lama masuk lagi bawa beberapa botol bir)

Turis: Saya cukup satu

Polisi: Satu? Cukup?

Turis: Saya sedang mengendarai kamu kan polisi (pasti tahu soal aturan tidak boleh mengendari motor sambil mabuk)

Polisi: Tidak masalah. Nanti kalau ada masalah cari saya saja.

Akhirnya minum bir bersama pun berlangsung. Seorang polisi masuk mengambil satu botol dan ikut minum

Turis: Sehari ini sudah berapa orang yang membayar ke kamu (suap)

Polisi: Tiga orang.

Turis : Saya paling besar ya?

Polisi: Kamu yang nomor dua. Pertama 300ribu, kamu 200 ribu dan satunya 100 ribu.

Siaran itu disiarkan di SBS 6. Sebuah televisi komersial di Belanda. Hal ini karenaada logo televisi tersebut di video tersebut.

Lebih lengkap lihat videonya, klik link gambar di bawah



Itulah polisi Indonesia. Ruarrrrrrrr biasa (rusaknya). Tapi paling Kapolri akan mengatakan ”Itu oknum”

Polisi 'Pemalak' Turis di Bali Itu Aipda Komang Sarjana


(courtesy: Youtube)
Polisi lalu lintas di Bali terekam dalam video yang beredar di Youtube tengah memalak seorang turis Belanda yang ditilang dan minum bir di dalam Pos Polisi. Anggota Satlantas Polres Badung itu diketahui adalah Aipda KomangSarjana.

"Ya memang bertugas di Polres Badung," ujar Kasubbag Humas Polres Badung AKP Made Dina di Bali, Kamis (4/4/2013).

Menurutnya, saat ini Aipda Komang Sarjanamasih menjalani pemeriksaan di Propam Polda Bali dan diamankan di Mapolda Bali.

Kapolres Badung AKBP Komang Suarthana mengakui seorang polisi di Bali yang menilang turis asal Belanda dan 'memalaknya' adalah anak buah dia. Menurut Komang, kejadian pemalakan itu berlangsung pada 6 bulan yang lalu.

"Kejadiannya 6 bulan yang lalu, tapi baru masuk Youtube tanggal 1 April," ungkap Komang saat dihubungi Liputan6 .

Dilihat dari pangkatnya saat itu, Komang Sarjana merupakan Brigadir Polisi. Namun, kini ia mendapatkan kenaikan pangkat menjadi Aipda.

Profil Turis Kriwil Belanda Pembuat Video Polisi Bali 'Pemalak'


Kees Van Der Spek (peterrdevries.n)

Video turis asal Belanda bernama Kees Van Der Spek yang 'dipalak' oleh polisi lalu lintas di Bali berpangkat brigadir polisi kepala (Bripka) menuai banyak kontroversi. Belum diketahui apa tujuan Van Der Spek mengabadikan momen saat dirinya ditilang secara diam-diam. Hanya untuk lucu-lucuan atau untuk membuktikan sesuatu?

Informasi yang dihimpun Liputan6 dari Wikipedia yang dilansir Kamis (4/4/2013), turis belanda bernama lengkapKees van der Spek yang lahir tahun 1964 itu adalah seorang jurnalis.

Melalui situs tersebut, pria yang usianya hampir setengah abad itu adalah seorang reporter televisi. Ia bekerja bersama rekannya Peter R. de Vries. Keduanya adalah jurnalis spesialis kriminal.

Van Der Spek bertugas untuk mencari berita pada program televisi Belanda bertajuk Peter R. de Vries, yang menayangkan penyelidikan rahasia.

Sebelumnya ia juga sempat terlibat dalam pencarian seorang siswi Amerika bernama Natalee Ann Holloway yang hilang saat tur dari sekolahnya ke Aruba . S ebuah negara mirip Karibia di Kerajaan Belanda. Natalee hilang pada 24 Mei 2005, dan Spek pun ikutterlibat dalam kasus itu d engan informan Patrick Van Der Eem.

Wartawan Multitalenta

Tak hanya mahir dalam melakukan penyelidikan, turis Belanda berambut keriwil itu ternyata juga pandai menulis. Pada 2008, ia sempat merilis sebuah buku bertajuk Achter de schermen bij Peter R. de Vries atau Behind The Scenes dari program televisi berjudul Peter R. de Vries.

Diketahui dari akun jejaring sosial dengan nama lengkapnya Kees Van Der Spek, pria berusia 49 tahun itu adalah penyuka musikBach, Tom Waits, Leonard Cohen, dan Coldplay.

Masih dari akun Facebook miliknya, ia diketahui bekerja di Endemol, sebuah televisi produksi internasional dan perusahaan distribusi yang berkantor pusatBelanda. Di perusahaan tersebut ia menjabat sebagai direktur sekaligus reporter.

Pria Belanda yang juga fasih berbahasa Inggris itu ternyata lulusan dari NHTV Breda, European School of Bergen New York, CSG Oude Hoven Gorinchem, Moderne Humaniora Bujumbura, Vrije Atheneum Paramaribo.

Ternyata pria yang memiliki rambut kriwil itu telah menikah dengan wanita berambut panjang bernama Annabelle Van Der Spek.

Van Der Spek Juga Bongkar Praktik Mafia Money Changer di Bali



Van Der Spek, tak hanya sukses merekam anggota Polantas Bali yang sedang minta uang damai. Turis asal Belanda ini juga membongkar praktik kotor para mafia money changer di Pulau Dewata. Der Spek pun berhasil merekam aksi para mafia money changer yang kerap ngibulin para turis asing di Pulau Dewata itu.

Aksi Van Der Spek itu bisa dilihat di youtubeyang baru diunggah pada 1 April lalu. Di Youtube, video berdurasi 5 menit 28 detik itu diberi nama 'Penipuan Turis di Bali / Fraud to tourists in Bali '

Awalnya tampak bahwa bahwa bule berambut kriting pirang itu memasuki sebuah money changer di sebuah gang sempit di kawasan Bali . Dia pun lalu menukarkan uang dolar ke dalam pecahan rupiah.

Harga sudah setuju, uang rupiah yang akanditukar pun sudah dihitung dan disiapkan petugas kasir. Namun dengan kecepatan tangan yang dimiliki kasir tersebut, beberapa lembar uang Rp 50 ribu ia jatuhkan ke laci. Uang yang sudah berkurang jumlahnya itu pun segera berpindah tangan ke Van Der Spek.

Ketika keluar bilik money changer , Van DerSpek lalu menghitung rupiah yang dia terima. Dan benar saja, rupiah yang dia terima tidak sesuai dengan nilai tukar yangseharusnya.

Bule itu pun kemudian masuk dan memintakekurangan uangnya dikembalikan, tetapi usahanya sia-sia. Sang kasir menolak mengembalikan uangnya.

Bukan sekali saja Van Der Spek merekam hal itu. Dia lalu kembali melakukan penukaran mata uang di lokasi berbeda, namun perlakuan sama tetap dia alami.

Seorang kasir money changer berkaos putihmengelabuhi dengan cara yang sama di tempat pertama. Dengan cepatnya sang kasir bisa mengurangi tumpukan uang rupiah dan dimasukkan ke dalam laci. Tetapi kali ini sang kasir kalah gertak.

"How did you do it? why? because stupid turis?" ujar Van Der Spek dalam video tersebut.

"Tell me the secret?" desak Van Der Spek kepada pria yang mengakalinya itu.

Sang petugas kasir rupanya tidak bisa mengelak lagi bahwa dirinya telah mengelabuhi pelanggannya. Dia pun segerameminta maaf kepada Van Der Spek.

"Sorry yah. Do you want to look?" ujarnya.

Kasir itu pun langsung mempraktikan bagaimana trik yang digunakannya untuk mengurangi setumpuk uang rupiah yang dia genggamnya. Dan memang butuh kecepatan dan ketenangan untuk melakukan trik tersebut.

Kasus tersebut sebenarnya akan merugikanwarga Bali tentunya. Selama ini Bali dikenal sebagai kota tujuan turis internasional. Namun bila kecurangan seperti itu terus terjadi, bukan tidak mustahil Bali akan ditinggalkan para turis asingnya.

Berikut video Van Der Spek saat merekam aksi para mafia money changer sedang beraksi:



Video Polantas Terima Suap dari Bule Disiarkan TV Belanda Jakarta (CiriCara.com) – Video polisi lalu lintas (Polantas) di Bali yang menerima uang “damai” saat menilang seorang turis ternyata juga disiarkan di TV Belanda. Dalam video yang beredar di Youtube terlihat logo dari televisi Belanda, SBS6. imagebam.comSumber foto: YouTube Video yang diberi judul “Polisi Korupsi Di Bali/ Corruption Police in Bali” menggambarkan sebuah situasi saat turis bernama Kees van Der Spek ditilang polisi karena tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motor. Saat melakukan interogasi, ternyata polisi itu malah meminta uang “damai” kepada Kees. Kees pun kemudian memberikan uang “damai” sekitar Rp 200 ribu agar dia tidak perlu disidang. Parahnya, polisi tersebut kemudian mengajak Kees untuk meminum bir. “Yang seratus untuk beli bir. Yang seratus untuk pemerintah saya,” kata polisi tersebut. Lihat videonya di sini. Setelah diselidiki, ternyata rekaman video tersebut merupakan bagian dari salah satu acara televisi berjudul “Oplichters in het Buitenland”. Dimana Kees merupakan seorang reporter dari acara yang menceritakan tindak kriminal yang sering terjadi pada turis Belanda itu. “Saya mencari tahu kriminalitas sering menimpa para turis, utamanya asal Belanda, dan saya rela menjadi korban untuk mengetahui kejahatan itu,” ujar Kees, seperti dikutip dari Merdeka.com, Kamis (4/4/2013). Menurut pengakuan Kees, rekaman suap tilang tersebut diambil pada tahun 2012 lalu. Dia sengaja menjadi korban agar bisa merekam kelakuan polisi “nakal” itu. Selain Kees, ada satu kamera lagi yang memantau situasi di sekitar pos polisi dari seberang jalan. Sementara itu, Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi mengaku akan segera melakukan pelacakan terhadap oknum yang terekam dalam video tersebut. Ia juga telah memerintahkan semua jajarannya untuk melapor. “Masih kami cek,” ujarnya. (YG)

Read more at: http://ciricara.com/2013/04/04/video-polantas-terima-suap-dari-bule-disiarkan-tv-belanda/
Copyright © CiriCara.com
Video Polantas Terima Suap dari Bule Disiarkan TV Belanda Jakarta (CiriCara.com) – Video polisi lalu lintas (Polantas) di Bali yang menerima uang “damai” saat menilang seorang turis ternyata juga disiarkan di TV Belanda. Dalam video yang beredar di Youtube terlihat logo dari televisi Belanda, SBS6. imagebam.comSumber foto: YouTube Video yang diberi judul “Polisi Korupsi Di Bali/ Corruption Police in Bali” menggambarkan sebuah situasi saat turis bernama Kees van Der Spek ditilang polisi karena tidak memakai helm saat mengendarai sepeda motor. Saat melakukan interogasi, ternyata polisi itu malah meminta uang “damai” kepada Kees. Kees pun kemudian memberikan uang “damai” sekitar Rp 200 ribu agar dia tidak perlu disidang. Parahnya, polisi tersebut kemudian mengajak Kees untuk meminum bir. “Yang seratus untuk beli bir. Yang seratus untuk pemerintah saya,” kata polisi tersebut. Lihat videonya di sini. Setelah diselidiki, ternyata rekaman video tersebut merupakan bagian dari salah satu acara televisi berjudul “Oplichters in het Buitenland”. Dimana Kees merupakan seorang reporter dari acara yang menceritakan tindak kriminal yang sering terjadi pada turis Belanda itu. “Saya mencari tahu kriminalitas sering menimpa para turis, utamanya asal Belanda, dan saya rela menjadi korban untuk mengetahui kejahatan itu,” ujar Kees, seperti dikutip dari Merdeka.com, Kamis (4/4/2013). Menurut pengakuan Kees, rekaman suap tilang tersebut diambil pada tahun 2012 lalu. Dia sengaja menjadi korban agar bisa merekam kelakuan polisi “nakal” itu. Selain Kees, ada satu kamera lagi yang memantau situasi di sekitar pos polisi dari seberang jalan. Sementara itu, Kabid Humas Polda Bali Kombes Hariadi mengaku akan segera melakukan pelacakan terhadap oknum yang terekam dalam video tersebut. Ia juga telah memerintahkan semua jajarannya untuk melapor. “Masih kami cek,” ujarnya. (YG)

Read more at: http://ciricara.com/2013/04/04/video-polantas-terima-suap-dari-bule-disiarkan-tv-belanda/
Copyright © CiriCara.com

Dua Polisi Bali Terima Suap Turis Dibebastugaskan


Rabu, 10 April 2013 | 14:47 WIB
youtube.com
Metrotvnews.com, Denpasar: Kepolisian Daerah Bali sampai saat ini belum menahan oknum polisi yang menerima suap dari seorang jurnalis asal Belanda, Van Der Spek, sebagaimana video yang beredar di YouTube beberapa waktu silam. Meski belum ditahan, Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Pol Hariadi mengatakan kedua oknum polisi itu saat ini dibebastugaskan.

"Keduanya sudah dibebastugaskan sampai dengan batas waktu yang tidak ditetapkan dan selama ini masih dalam pengawasan intensif dari Provos Polda Bali," ujar Hariadi di Denpasar, Bali, Rabu (10/4).

Menurut Hariadi, dua oknum polisi itu setiap hari tetap datang ke kantor dan melakukan tugas rutin, seperti apel pagi dan absensi. Setelah itu keduanya harus menjalani serangkaian pemeriksan oleh penyidik dari Propam Polda Bali. Keduanya terancam dikenai pelanggaran etika profesi.

Setelah fokus ke pelanggaran etika profesi, langkah penyidik Propam selanjutnya kemungkinan besar membidik pelanggaran pasal suap untuk pengadilan umum.

"Namun kemungkinan kedua ini masih belum pasti. Dan terkait dengan etika, keduanya sudah melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada institusi Polri," ujarnya.

Sementara, menurut Hariadi, Polda Bali sampai saat ini belum memikirkan upaya pemanggilan terhadap Van Der Spek, jurnalis yang mengunggah video pungli tersebut ke situs YouTube.(Arnoldus Dhae)

Editor: Dendi Suharyana

Dua Polisi Bali Terima Suap Turis Dibebastugaskan


Rabu, 10 April 2013 | 14:47 WIB
youtube.com
Metrotvnews.com, Denpasar: Kepolisian Daerah Bali sampai saat ini belum menahan oknum polisi yang menerima suap dari seorang jurnalis asal Belanda, Van Der Spek, sebagaimana video yang beredar di YouTube beberapa waktu silam. Meski belum ditahan, Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Pol Hariadi mengatakan kedua oknum polisi itu saat ini dibebastugaskan.

"Keduanya sudah dibebastugaskan sampai dengan batas waktu yang tidak ditetapkan dan selama ini masih dalam pengawasan intensif dari Provos Polda Bali," ujar Hariadi di Denpasar, Bali, Rabu (10/4).

Menurut Hariadi, dua oknum polisi itu setiap hari tetap datang ke kantor dan melakukan tugas rutin, seperti apel pagi dan absensi. Setelah itu keduanya harus menjalani serangkaian pemeriksan oleh penyidik dari Propam Polda Bali. Keduanya terancam dikenai pelanggaran etika profesi.

Setelah fokus ke pelanggaran etika profesi, langkah penyidik Propam selanjutnya kemungkinan besar membidik pelanggaran pasal suap untuk pengadilan umum.

"Namun kemungkinan kedua ini masih belum pasti. Dan terkait dengan etika, keduanya sudah melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada institusi Polri," ujarnya.

Sementara, menurut Hariadi, Polda Bali sampai saat ini belum memikirkan upaya pemanggilan terhadap Van Der Spek, jurnalis yang mengunggah video pungli tersebut ke situs YouTube.(Arnoldus Dhae)

Editor: Dendi Suharyana

Dua Polisi Bali Terima Suap Turis Dibebastugaskan

Rabu, 10 April 2013 | 14:47 WIB
youtube.com
Metrotvnews.com, Denpasar: Kepolisian Daerah Bali sampai saat ini belum menahan oknum polisi yang menerima suap dari seorang jurnalis asal Belanda, Van Der Spek, sebagaimana video yang beredar di YouTube beberapa waktu silam. Meski belum ditahan, Kepala Bidang Humas Polda Bali Kombes Pol Hariadi mengatakan kedua oknum polisi itu saat ini dibebastugaskan.

"Keduanya sudah dibebastugaskan sampai dengan batas waktu yang tidak ditetapkan dan selama ini masih dalam pengawasan intensif dari Provos Polda Bali," ujar Hariadi di Denpasar, Bali, Rabu (10/4).

Menurut Hariadi, dua oknum polisi itu setiap hari tetap datang ke kantor dan melakukan tugas rutin, seperti apel pagi dan absensi. Setelah itu keduanya harus menjalani serangkaian pemeriksan oleh penyidik dari Propam Polda Bali. Keduanya terancam dikenai pelanggaran etika profesi.

Setelah fokus ke pelanggaran etika profesi, langkah penyidik Propam selanjutnya kemungkinan besar membidik pelanggaran pasal suap untuk pengadilan umum.

"Namun kemungkinan kedua ini masih belum pasti. Dan terkait dengan etika, keduanya sudah melakukan permintaan maaf secara terbuka kepada institusi Polri," ujarnya.

Sementara, menurut Hariadi, Polda Bali sampai saat ini belum memikirkan upaya pemanggilan terhadap Van Der Spek, jurnalis yang mengunggah video pungli tersebut ke situs YouTube.(Arnoldus Dhae)

Editor: Dendi Suharyana

Perwira Polisi Aniaya Bocah 12 Tahun di Medan, Keluarga Minta Perlindungan


MEDAN(EKSPOSnews): Keluarga bocah yang menjadi korban penganiayaan oknum perwira polisi Inspektur Polisi Satu (Iptu) HH meminta perlindungan ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumatera Utara (Sumut), 6 Januari 2012.

Orangtua F,12,Ali Nur,warga Jalan Panglima Denai Gang Seser Medan Amplas mengatakan, keputusannya meminta pendampingan KPAID karena kasus penganiayaan yang menimpa anaknya sarat rekayasa, dan telah terjadi pemutarbalikan fakta. Ketua KPAID Sumut Zahrin Piliang, dia menceritakan, anaknya dan anak Iptu HH, RH,12, terlibat perkelahian di sebuah warung internet saat pulang sekolah pada 1 November lalu.

Perselisihan kedua anak tersebut, persoalan sepele, gara-gara game on line. “Anak saya minta password game Point Blank kepada RH, tapi diberi yang salah..” ”Jadi anak saya minta password yang benar.Tapi,RH tidak memberinya dan anak saya berkata, percuma anak polisi, tapi pelit,” katanya kepada wartawan di Kantor KPAID Sumut. Mendengar perkataan tersebut, RH emosi dan memukul F.Kedua bocah yang rumahnya berhadapan itu pun terlibat perkelahian.

Warga yang melihat langsung melerai. Beberapa saat kemudian RH datang ke rumah F bersama ibu bapaknya, yakni HH dan S. RH dan HH memukul pelajar kelas 2 Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Ulum Medan ini. Rupanya kejadian ini terlihat adik F,AF, 9, yang sontak menangis ketakutan.Tetapi, S yang merupakan guru di SDN Tuar Amplas malah menampar AF. Ali yang kebetulan keluar dari kamar kaget melihat anaknya diperlakukan demikian.

“Saya lihat sendiri anak saya dipukuli mereka. Saya langsung kejar keluar.Saya peluk polisi itu dari belakang. Saya bilang ini hanya persoalan anak kecil. Sudahlah, jangan diperbesar lagi. Jangan pukul anak saya lagi, kasihan wajahnya sudah memar begitu.Tapi, mereka tetap memukuli anak saya,”bebernya. Melihat hal itu,Ali Nur langsung melaporkannya Iptu HH berserta istrinya ke Kepolisian Daerah (Polda) Sumatera Utara (Sumut).

Namun, pengaduan tersebut tidak ditanggapi. Bahkan petugas kepolisian berusaha mendamaikan kedua belah pihak. F yang telah mengalami luka dan trauma dengan kejadian tersebut tak mendapat pertanggungjawaban dari Iptu HH. Kemudian,3 November 2011, Ali kembali membuat laporan ke polda, dan laporannya diregistrasi petugas dengan nomor No.Pol : LP/872/XI/2011/ SPKT. Nasib laporan ini sama dengan laporan pertama,yakni tidak dilanjuti.

Bahkan,saat dia menanyakan kasus itu, ternyata berkasnya sudah dialihkan ke Kepolisian Resor Kota (Polresta) Medan tanpa alasan yang jelas. “Kalau perkelahian sesama anak-anak saya terima, tapi kalau anak saya dianiaya sama orang tua ini yang tidak saya terima, dan saya meminta keadilan hukum. Orang tua mana yang terima melihat anaknya dipukul. Ini yang saya tidak terima,” tuturnya.

Tak lama kemudian, dia mendapat panggilan sebagai saksi oleh petugas Kepolisian Sektor Kota (Polsekta) Patumbak atas status anaknya sebagai tersangka penganiayaan terhadap RH. Laporan tersebut dilakukan Iptu HH.“Anak saya langsung ditetapkan sebagai tersangka pada pemanggilan pertama,”urainya. Terkejut dengan hal tersebut Ali Nur yang hanya bekerja di sebuah jasa pengiriman di Jalan Sisingamangaraja pun meminta meminta penangguhan penahanan.

“Tapi saya diwajibkan membawa F agar melapor dua minggu sekali.Kenapa begini, saya melaporkan tidak ditanggapi.Tapi, anak saya dilaporkan langsung jadi tersangka,” katanya. Ketua KPAID Sumut Zahrin Piliang mengatakan, dari penjelasan orangtua F tersebut terlihat jelas adanya kejanggalan yang dilakukan polisi dalam penanganan kasus ini.Kejanggalan semakin tampak jelas ketika F dilaporkan orangtua RH dan langsung ditetapkan sebagai tersangka.

“Laporan orangtua F tidak tindaklanjutnya.Tapi,tiba-tiba F dilaporkan sebagai tersangka. Ada apa ini?,”tanyanya. Dia melanjutkan,“Perkelahian anak-anak, silakan diselesaikan. Tapi, pemukulan Iptu HH jelas itu melanggar hukum dan kami akan mendampingi kasus ini. Kami akan pertanyakan dan meminta penjelasan ke Polresta Medan,”pungkasnya.

Sementara itu,Polresta Medan telah menetapkan empat orang menjadi tersangka dalam kasus penganiayaan yang dilakukan oknum polisi yang bertugas di Polres Pelabuhan Belawan itu. “Sudah empat orang dijadikan tersangka, yaitu Iptu HH,SS (istri Iptu HH), RH (anak Iptu HH) dan F (korban pengeroyokan),” ujar Kapolresta Medan Komisaris Besar (Kombes) Pol Tagam Sinaga saat mendatangi Polsek Patumbak, Jumat 6 Januari 2012.

Saat ini keempat tersangka tidak dilakukan penahanan, apalagi dua di antaranya berstatus anak-anak. Untuk RH, SS, dan HH, Tagam mengatakan, akan dijerat pasal 351 ayat 7 KUHPidana penganiayaan secara bersama-sama sedangkan F dikenakan pasal 351 KUHPidana. “Karena tidak mungkin hanya satu pihak saja yang dilakukan penahanan, apalagi dari hasil pemeriksaan tidak ada keinginan para tersangka untuk menghilangkan barang bukti, jadi buat apa ditahan,” ungkap Tagam.

Penetapan tersangka bukan baru ini dilakukan, tetapi sudah ditetapkan pada 3 November 2011 lalu, karena kedua pihak masing-masing membuat laporan jadi semuanya harus diproses. Dia membantah adanya anggapan keberpihakan dalam penanganan kasus hukum yang menimpa F. Merea tidak berpihak kepada salah satunya, buktinya status tersangka juga ditetapkan kepada keluarga RH lawannya berkelahi serta kedua orang tua RH yang ikut terlibat.

Meski berkas kedua belah pihak sudah selesai di kepolisian, namun Tagam mengatakan, masih tetap mempertimbangkan opsi berdamai di antara kedua belah pihak. Karena menurut dia, keterlibatan anak berusia dibawah umur seharusnya diselesaikan diluar proses hukum.

Seperti diketahui, status tersangka yang ditetapkan kepada F,terlibat perkelahian dengan RH beserta orang tuanya sempat membuat heboh. Namun ternyata status yang sama juga telah ditetapkan pihak kepolisian terhadap pihak RH dan kedua orang tuanya.(sindo)

Tega-teganya Polisi Memungli Mobil Rombongan Pengantin


  • Kamis, 5 Maret 2009 | 09:35 WIB
SIDOARJO, KAMIS — Mengabdi tanpa pungli yang digalakkan aparat kepolisian masih diragukan. Ini terungkap ketika perwakilan dari angkutan umum HS jurusan Krian-Sepanjang melakukan audiensi dengan Kadishub Sidoarjo dan polisi dalam sosialisasi keputusan Bupati Sidoarjo tentang penurunan tarif angkutan pedesaan dan taksi di Pasar Larangan, Rabu (4/3).

Dalam audiensi itu, HM Bachtiar, Ketua Paguyuban Angkutan HS mengutarakan keluhannya. Di pos polisi Kletek dekat traffic light, polisi yang sedang berjaga terkesan ’sembunyi’ sekitar 25 meter sebelah barat pos polisi.

Bahkan, pos polisi itu jarang difungsikan untuk memantau kepadatan arus dan mengingatkan pengguna jalan yang melanggar. “Kan aneh polisi tidak di pos, malah ada di pos satpam sebuah perusahaan,” tutur Bachtiar dengan suara lantang.

Ditambahkan pula, jika angkutan desa dipakai keluar kota untuk acara iring-iringan pengantin, misalnya ke Mojokerto, harus membayar Rp 25.000 kepada petugas setempat. Tetapi, kalau mobil angkutan desa lain masuk ke Sidoarjo tidak dipungut.

Kadishub Pemkab Sidoarjo Djoko Sartono menuturkan, sopir angkutan desa jika mau ke luar kota hendaknya datang ke Dishub dan minta izin insidentil. “Kami jamin izin itu gratis dan sesuai permintaan berapa hari dalam perjalanan. Sidoarjo tidak memberlakukan seperti itu,” tuturnya.

Sementara itu, Ipda Azis, Kanit Patroli Polres Sidoarjo yang ikut dalam sosialisasi kemarin menuturkan, pos polisi Kletek bukan wilayah Polres Sidoarjo, tetapi milik Polwiltabes Surabaya. “Itu bukan dari Polres Sidoarjo. Nanti akan saya koordinasikan,” tutur Ipda Azis di hadapan puluhan sopir.(mif)

Polisi Bejad, Tega Hamili Anaknya Sendiri


Tribun Jogja - Sabtu, 9 Maret 2013 10:59 WIB
Oknum Polisi Tega Hamili Anaknya Sendiri
Ilustrasi

TRIBUNJOGJA.COM, SUNGGUMINASA - Seorang oknum polisi sektor (Polsek) Parangloe terpaksa diamankan di Polres Gowa, karena menghamili anak kandungnya sendiri hingga melahirkan.

Hal ini dibenarkan oleh Camat Parangloe, Saleh yang dihubungi Tribun, Sabtu (9/3/2013).

"Sudah dibawa ke Polres Gowa dari kemarin dek. Sepertinya, anaknya juga diperiksa," ujarnya.

Mawar (nama samaran) yang diketahui berumur sekitar 18 tahun ini sudah tidak melanjutkan sekolah. Ia lebih banyak di rumah. Saleh juga mengatakan kalau Mawar sudah melahirkan.

Hingga berita ini diturunkan, belum belum ada konfirmasi dari pihak Polres Gowa. (*)

Editor : Joko Widiyarso     ||     Sumber : Tribunnews

Tega! 2 Bocah Dieksekusi Mati karena Mengais Makanan dari Polisi

oleh Elin Yunita Kristanti
Posted: 11/06/2013 13:00
Tega! 2 Bocah Dieksekusi Mati karena Mengais Makanan dari Polisi
Liputan6.com, Kabul : Aparat Afghanistan menuding militan garis keras Taliban memenggal kepala dua bocah atas tuduhan mata-mata. Namun para pemimpin pemberontak membantah tuduhan mengerikan itu.

Dua bocah malang itu, berusia 10 dan 16 tahun, dipenggal di selatan Provinsi Kandahar, setelah mereka mengumpulkan makanan sisa dari sebuah pos polisi. Demikian diungkap juru bicara polisi, Ghorzang Afridi.

"Anak-anak itu biasa pergi ke pos polisi untuk mengumpulkan makanan dan apapun yang dibuang oleh anggota polisi. Taliban yang menganggap mereka adalah mata-mata polisi, menculik dua bocah malang itu, dan memenggalnya," kata Ghorzang Afridi seperti dimuat Al Arabiya, Senin 10 Juni 2013.

"Mereka hanya anak-anak miskin yang menyambung hidup dengan memulung dan mengambil barang-barang yang tak lagi terpakai," tambah dia.

Jasad dua korban ditemukan warga di area terpencil di Distrik Zhari, dan melaporkannya pada polisi.

Sementara, juru bicara pemerintah provisi Kandahar, Javid Faisal, juga mengonfirmasi kejadian itu. Namun, Taliban membantah jadi pelaku.

Taliban Membantah

Dari markasnya yang terasing dan rahasia, juru bicara Taliban, Qari Yousuf Ahmadi menepis tuduhan itu. Ia justru menuding balik pemerintah yang menjadikan kejadian itu sebagai propaganda, sembari mengutuk kekejaman atas dua bocah tersebut.

"Pemerintah menggunakannya untuk pengalihan isu penyerangan di Kabul," kata dia merujuk pada serangan Taliban ke bandara di ibukota Kabul, Senin pagi kemarin.

Dalam kejadian itu, tujuh serdadu Taliban menyerang menggunakan senapan dan granat, menembaki gedung-gedung militer, sebelum mundur setelah ditangkis pasukan Afghanistan. Tak ada korban jiwa dari warga sipil dan aparat, namun serangan itu membuat sejumlah penerbangan dibatalkan atau ditunda selama beberapa jam.

Dua penyerang meledakkan dirinya sendiri, lima lainnya tewas saat pasukan elit Afghanistan menyerbu lokasi persembunyian para militan.

Masih di hari Senin, 6 gerilyawan menggunakan bom truk untuk menyerang gedung dewan provinsi dan pusat pendaftaran pemilih di provinsi selatan Zabul. Semua penyerang tewas dan tiga polisi dan 15 warga sipil terluka.

Agustus lalu Taliban memenggal kepala 17 anak muda , termasuk dua perempuan, yang menghadiri sebuah pesta musik di Provinsi Helmand. (Ein/Yus)

2 dari 3 Polisi Masuk Neraka


OPINI
“2 dari 3 polisi masuk neraka”. Mungkin kalimat ini terdengar asing dan agak aneh di telinga kita, bahkan terdengar ngawur. Dimana letak keanehannya? ya, biasanya kita mendengar suatu dalil dengan kalimat: “2 dari 3 hakim masuk neraka”. Mohon maaf sebelumnya, tulisan ini tidak berniat untuk mengkritisi sesuatu dari segi agama atau melecehkan dalil hukum Islam, tentu tidak, tulisan ini hanya sekedar untuk menyentuh hati nurani para penegak hukum terutama para aparat kepolisian.
Menjadi seorang hakim dinilai sebagai suatu profesi yang berat, mengapa tidak? Karena pekerjaan sebagai seorang hakim ialah pekerjaan yang sangat beresiko, sebab keputusannya diharapkan dapat memenuhi keadilan dari pihak-pihak yang bersengketa sehingga keputusan hakim menentukan nasib seseorang, ketika keputusan dijatuhkan, tak jarang ada pihak yang tidak puas dengan putusannya. Di dunia, ia akan berhadapan dengan para pihak yang tidak berpuas hati dengan keputusannya, sedangkan di akhirat hakim diancam dengan neraka jika tidak menetapkan keputusan sesuai dengan yang seharusnya. Disinilah letak resikonya.
Kita tahu bahwa di Indonesia, sebelum suatu perkara tindak pidana diadili dan diputus oleh hakim di persidangan, perkara ditangani oleh pihak kepolisian Sesuai pembagian kerja antara Kepolisian Negara dan Kejaksaan, penuntutan perkara diserahkan semata-mata kepada Kejaksaan, sedangkan untuk penyidikan diserahkan kepada Kepolisian. Nah yang jadi permasalahan ialah bagaimana jika penyidikan dilakukan tanpa keadilan?
Contoh kasus nih, ada seorang korban tindak pidana asusila yang pelakunya kebetulan anak pejabat yang secara otomatis dari kalangan orang berada dan punya kekuasaan. Laporan si korban diterima namun dalam proses penyidikan sangat tidak adil, penyidik pasif dalam penyidikan dan akhirnya pelaku tidak juga ditetapkan sebagai tersangka yang artinya cukup sudah perkara berhenti sampai di kepolisian saja. Perlakuan penyidikpun sangat berbeda saat menyidik korban dan pelaku. Polisi bahkan menampakkan jika mereka cenderung membela pelaku di depan mata kepala korban. Sungguh ironis bukan? Tentu pertanyaan yang ada di kepala kita dalam kasus ini ialah “Mengapa sikap penyidik demikian?”. Yah tentu kita sudah tahu jawabnya. Kasus tersebut hanyalah salah satu contoh kecil dari ribuan kasus yang ditangani oleh kepolisian tanpa keadilan.
Wewenang kepolisian dalam hal menyidik sangat memiliki peranan dalam sistem hukum pidana di negara kita, menurut saya kunci dari perkara bisa dilanjutkan atau tidak adalah berada di tangan kepolisian. Kita tidak usah berfikir jauh-jauh sampai ke putusan hakim, sampai ke persidangan atau apalah. Jika kepolisian tidak memberi rambu hijau untuk melanjutkan perkara, tentu semua berakhir kan? Lalu bagaimana dengan para polisi yang menangani perkara dengan lebih mementingkan mana pihak yang lebih kuat duitnya? Lalu bagaimana nasib korban-korban yang datang ke kantor polisi untuk mengharap keadilan namun mereka dari kalangan orang tidak mampu? Taukah kita bahwa begitu banyak surat laporan tertumpuk di kepolisian dan tidak ada penyelesaian dari  laporan-laporan tersebut? Jadi sekarang yang memutuskan seseorang bersalah atau tidak secara tidak langsung sudah bergeser ya?
Jika begitu, tentu menjalani profesi sebagai seorang polisi bisa dikatakan sama beratnya dengan menjalani profesi sebagai hakim. Dan begitu pula dengan pertanggung jawabannya kan??

Polisi, Dengarlah Rakyat Sebelum Terus Dikutuk


SERATUS kali, seribu kali atau bahkan beribu-ribu kali sudah disampaikan oleh rakyat, kalau polisi ingin dipercaya rakyat, dengarlah suara rakyat. Lewat dunia maya, media elektronik dan cetak bahkan lewat demo turun ke jalan sudah disampaikan bagaiamana suara rakyat. Tapi polisi belum juga mau mendengar suara rakyat.
Kemelut Polri dengan KPK adalah puncak penyebab kebencian rakyat kepada aparat berseragam coklat itu. Itu pun setelah rakyat melihat kalau polisi sengaja memusuhi KPK karena KPK dianggap polisi terlalu arogan khususnya kepada polisi sendiri. Polisi ternyata tidak terima kantornya digeledah KPK meskipun penggeledahan seperti itu sudah berkali-kali dilakukan di kantor-kantor lain. Belum pernah ada perlawanan dari instansi manapun ketika KPK menjalankan tugasnya seumpama pengeledahan itu. Tapi polisi tidak terima.
Rakyat yang jengkel kepada polisi memang sedang dan sudah memberikan berbagai suara lewat berbagai saluran media yang ada. Bahkan dalam tiga hari belakangan, berita dan komentar dukungan rakyat kepada KPK yang dianggap dikriminalisasi polisi, semakin tak terbendung. Sebuah komentar seorang demonstran tegas mengatakan, “Jangan biarkan kemarahan rakyat ini membesar.” Dimana-mana sudah mulai merebak demo-demo turun ke jalan yang secara jelas mendukung KPK. Jargon ’selamat Indonesia, selamatkan KPK’ adalah dua kata yang didengungkan terus-menerus.
Rakyat tetap tidak bisa menerima alasan polisi berusaha menangkap seorang polisi yang menjalankan tugas mulia memberantas korupsi dengan alasan yang dicari-cari. Alasan Novel diduga melakukan tindak pidana 8 tahun silam baru sekarang mau diproses, nyata-nyata secara telanjang polisi tampak berbohong. Bagaimana polisi bisa dipercaya rakyat kalau berbagai kasus yang melibatkan polisi sendiri seperti kasus ‘rekening gendut’ yang sudah ditelaah Tempo beberapa waktu lalu, malah tidak satupun oknumnya yang ditangkap. Sementara Novel Baswedan yang nyata-nyata melaksanakan tugas memberantas kejahatan kemanusiaan, kok malah mau ditangkap sekarang juga. Polisi saja pasti tidak percaya alasan itu.
Kelihatannya polisi masih belum juga mau mendengar suara rakyat. Polisi masih juga memaksa rakyat mendengar suara mereka yang semakin hari semakin sumbang terdengar oleh rakyat. Aneh, pucuk pimpinan polisi juga rupanya tidak bisa membaca kebohongan anak buahnya itu. Dia pun ikut menyebut Novel harus ditangkap karena terlibat tindak pidana.
Rakyat tidak akan berhenti membela KPK walaupun harus memusuhi polisi. Jadi, kalau polisi ingin dibela rakyat, tidak usah membuat pernyataan atau membuat konferensi pers seperti yang dilakukan Kabareskrim, Sutarman kemarin. Rakyat tidak percaya dengan itu semua. Lebih baik polisi berterus terang, kalau Novel itu berusaha ditangkap adalah untuk membungkam KPK agar tidak melanjutkan proses penyidikan dugaan korupsi simulator SIM itu. Tapi percayalah, keinginan seperti itu sudah tidak waktunya lagi. di zaman orba mungkin bisa.
Jadi, sudahlah Pak Polisi. Untuk beberapa oknum polisi yang saat ini merasa tersandung masalah korupsi, mundur sajalah dari arena. Lebih baik menjelaskan kepada rakyat kalau kesalahan itu, dulu, terlakukan karena sistem yang memaksa membuatnya. Kini ternyata sudah tidak bisa, ya hentikan. Lalu polisi-polisi yang masih bersih, masih bertintegritas tinggi dengan tanggung jawabnya, majulah ke depan. Beranilah menentang secara terbuka segala kebobrokan yang selama ini dilakukan.
Andai saja ini mau dilakukan, walaupun terasa terlambat, itu jauh lebih baik dalam rangka menyelamatkan institusi kepolisian dari pada memperuncing perseteruan dengan KPK. Tidak usah polisi menunggu perintah presiden karena presiden yang ditunggu-tunggu itu entah kemana. Bahkan sekarang rakyat juga sudah mulai tidak percaya juga kepada presiden yang diam seribu bahasa melihat perlawanan polisi kepada KPK ini.
Polisi, rakyat segera akan berbalik mendukung bapak-bapak seperti rakyat mendukung KPK jika bapak-bapak polisi yang terhormat mau secepatnya berubah langkah.***

Polwan Selingkuh Digerebek Suami


MEDAN-Kasus perselingkuhan yang dilakukan Briptu Dewi dengan seniornya Bripka Cokro Pronolo Sitorus dikediaman Brigadir Ali Hanafi anggota polisi yang bertugas di SPK Polsekta Medan Kota, di Jalan Medan Area Selatan, Gang Kebangsaan, Kecamatan Medan Area, hingga saat ini masih dalam pemeriksaan di Propam Polresta Medan.

Menanggapi kasus perselingkuhan yang dilakukan oknum pelindung, penganyom dan pelayan masyarakat ini Kasubid Pengelola Informasi dan Data Humas Polda Sumut AKBP. MP. Nainggolan saat dikonfirmasi Posmetro Medan (Group JPNN) diruang kerjanya kemarin (2/2) siang mengatakan jika ada pengaduan dari suaminya maka kedua anggota polri tersebut akan ditahan.

"Jika ada pengaduan dari suaminya maka kedua-duanya ditahan," ucap Nainggolan membuka pembicaraan. Saat ditanya apakah akan dilakukan pemecatan terhadap kedua anggota Polri tersebut, perwira dua melati emas dipundaknya ini belum dapat memastikan. "Belum dapat kita pastikan, kita tunggu proses sidang," sambungnya.

Dengan adanya laporan dari istri Bripka Cokro mengenai penganiayannya terhadap dirinya, Nainggolan juga mengaku akan segera diproses. "Kalau mengenai kasus penganiayaannya juga akan kita proses, sesuai saksi-saksi yang diperoleh. Setelah kasusnya dipropam, baru pidananya," jelas Nainggolan pada Posmetro Medan.

Menurutnya, setelah dilakukan pengaduan oleh korbannya ke Propam Polresta Medan, kedua pasangan selingkuh tersebut harus ditahan. "Setelah adanya pengaduan dari korbannya, keduanya bisa langsung ditahan. Baru sidang profesi, kemudian pidananya," ucapnya mengakhiri perbincangan pada Posmetro Medan.

Sebelumnya, Brigadir Ali Hanafi anggota SPK Polsekta Medan Kota bersama warga sekitar dan teman kerjanya menggrebek istrinya Briptu Dewi sedang selingkuh dengan Bripka Cokro Sitorus yang merupakan seniorannya dirumahnya Jalan Medan Area Selatan, Gang Kebangsaan, Kec. Medan Area.

Penggrebekan itu bermula berkat adanya laporan warga kalau Brigadir Dewi membawa lelaki lain didalam rumah Ali. Ketepatan Ali yang saat itu sedang piket malam, langsung menuju kediamannya bersama temannya. Ternyata warga sekitar sudah ramai dilokasi. Tanpa dikomandoi, warga dan Ali langsung menggrebek rumah yang baru setahun dikontraknya tersebut.

Sebelum membuka paksa pintu, beberapa mencoba menggedor-gedor pintu rumahnya akan tetapi tidak ada sahutan dari dalam. Merasa kesal, warga bersama Ali lalu membongkar paksa pintu garasi rumahnya dengan menggunakan linggis. Kemudian Ali dan warga masuk kebagian dalam garasi dan menemukan sepeda motor Suzuki Smash warna hitam yang bukan bukan miliknya.

Lalu, mereka kembali menggedor pintu kamar Brigadir Dewi. Namun tak juga ada sahutan dari dalam, sehingga warga mengancam akan membongkar paksa pintu kamar tersebut sehingga membuat Brigadir Dewi ketakutan dan membuka pintunya. Kemudian warga, Ali dan teman kerjanya yang bertugas di Polsekta Medan Kota memeriksa kamar tersebut dan Bripka Cokro Sitorus ditemukan bersembunyi di bawah tempat tidurnya dengan memakai pakaian. Melihat itu, warga yang kesal lalu menariknya dan sempat memukuli Bripka Cokro beberapa kali hingga akhirnya diboyong ke Polsekta Medan Kota lalu diserahkan ke Polresta Medan. (EZA)

Polwan, dari Sabu hingga Foto ‘Biru’


Jumat, 24/05/2013 | 08:00 WIB

Bripka Sumini dan Briptu Rani
Bila bapak-bapak polisi terjerat korupsi hingga rekening gendut, Polisi Wanita (polwan) juga punya jejak yang tak kalah karut mawut. Tertangkap sedang nyabu hingga beredarnya foto ‘biru’ alias seksi menjadi ironi tersendiri.
Polwan saat ini banyak yang tak kalah cantik dengan presenter televisi dan foto model. Terbukti mereka sangat camera face saat memandu acara pantauan lalu lintas. Bahkan, saat ini kecantikan Polwan dijadikan ‘senjata’ utama untuk meredam emosi para pengunjuk rasa.
Di sisi lain, catatan negatifnya juga makin panjang. Bak selebritas yang sering menyerempet ‘dunia hitam’, Polwan pun memiliki catatan serupa.
Pelanggaran hukum pun dilakukan oleh wanita penegak hukum ini. Brigadir Dw misalnya, tertangkap selingkuh Polwan cantik anggota Sabhara Polresta Medan Brigadir Dw tertangkap selingkuh dengan rekan kerjanya, Bripka CS. Awalnya kedua insan beda jenis ini cuma curhat-curhatan, tapi kemudian hubungan mereka semakin jauh.
Suami korban yang juga seorang polisi bernama Brigadir AN menggerebek perselingkuhan istrinya itu dibantu warga. Peristiwa ini terjadi tahun 2012 lalu di kawasan Medan Area.
Saat digerebek, Bigadir Dw awalnya tak mengaku. Tapi kemudian Bripka CS ditemukan bersembunyi di kolong tempat tidur. Warga dan polisi yang menangkap basah mereka menghadiahi bogem mentah pada polisi mesum ini. Kapolsekta Medan Kota, Kompol Sandy Sinurat menjelaskan masalah ini ditangani oleh Polres Medan.
Ada juga nama Bripka Sumini yang ketahuan pakai sabu. Bripka Sumini, anggota polwan Polres Salatiga, akhirnya direkomendasikan oleh Komisi Disiplin untuk dipecat. Bripka Sumini sempat kabur dan dinyatakan masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) serta tidak berdinas (desersi) selama kurang 18 bulan, sejak bulan Oktober 2011.
Bripka Sumini ditangkap lantaran kedapatan membawa narkoba jenis sabu-sabu saat petugas Resnarkoba Polres Salatiga menggerebek sebuah kos-kosan yang telah masuk target operasi (TO). Setelah diperiksa polwan cantik ini positif menggunakan narkoba
Iptu R lebih berani lagi, dia menggunakan narkoba saat dugem di diskotek. Polisi menangkap Iptu R karena positif menggunakan narkoba. Dari pengakuan Iptu R kepada polisi, dirinya ternyata sudah mengonsumsi narkoba sejak tahun 2008. Polwan cantik ini bahkan menenggak ekstasi di sebuah diskotek. "Berdasarkan keterangan yang dihimpun sudah dari 2008 (mengonsumsi narkoba)", kata Kapolres Jakarta Selatan Kombes Pol Imam Sugianto, Jumat (16/3/2013).
Iptu R kemudian menjalani rehabilitasi Pusat Rehabilitasi Penanganan Korban Narkoba Lido (PRPKN Lido), Bogor.
Iptu R diamankan pihak Propam Polres Jakarta Selatan karena diduga memiliki hubungan dengan mantan Kapolsek Cibarusah AKP Heru Budi Sutrisno yang tertangkap tangan menggunakan sabu-sabu. Dari handphone milik Heru Budi, polisi mendapatkan sebuah SMS yang menyebut nama Iptu R.Â
Terpanas adalah Briptu Rani dengan isu foto syurnya yang tersebar. Setelah dicari-cari oleh polisi, tiba-tiba Briptu Rani dikabarkan telah mendatangi Mabes Polri dengan ditemani keluarganya. Janda dari anggota Brimob Polda Jawa Timur, Briptu E, yang juga dikabarkan dipecat karena indispliner ini, datang ke Mabes Polri untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya dari kepolisian.
Sementara informasi yang beredar di internal kepolisian, Briptu Rani menghilang karena malu foto-foto syurnya beredar luas di masyarakat. Bahkan dari golongan anggota polisi juga menerima foto-foto 'panas' Briptu Rani melalui BlackBerry-nya. "Kabarnya memang seperti itu, benar tidaknya saya kurang paham. Tapi, informasi tersebut sudah didengar di lingkungan Polda Jatim," kata salah satu anggota Polda Jawa Timur.
Kapolres Mojokerto AKPB Eko Puji Nugroho sendiri, ketika dikonfirmasi terkait informasi beredarnya foto-foto hot Briptu Rani tersebut, mengaku tidak tahu menahu soal itu. "Yang Jelas dia memang sudah kami tetapkan sebagai DPO dan sudah kami sampaikan ke Polda Jatim dan Mabes Polri untuk menangkap dia (Briptu Rani) jika menemukannya," kata mantan Kasat Reskoba Polrestabes Surabaya itu.
Briptu Rani Indahyuni Nugrahaeni hingga kini masih menjadi buron dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) Polres tempatnya berdinas. Hal ini dilakukan karena Briptu Rani dianggap desersi atau meninggalkan kewajiban dinas sebagai polwan.
Orang tua Briptu Rani, yang merupakan Kapolsek di Polsekta Cibeunying Kaler, Bandung, Komisaris Polisi Maedi Suti belum bisa dimintai komentar atas kasus yang menimpa putrinya itu.
Saat disambangi di Mapolsek Cibeunying Kaler, Kamis 23 Mei 2013, ruangan kapolsek Cibeunying Kaler tampak kosong. Petugas piket di Mapolsek setempat, Briptu Dadan menyatakan bahwa kapolsek sejak kemarin tidak berada di kantor.
Di sisi lain, Briptu Rani dikabarkan menjadi korban bullying seniornya. Salah satu penyebabnya adalah gaya hidup Rani yang mencolok.
Sebelumnya, paman Rani, Syariefuddin membantah pemberitaan terkait keponakannya yang selama ini beredar di masyarakat. Menurut Syarief, Rani telah menjadi korban pelecehan seksual atasannya.
Selain itu, ia pun menuturkan, Rani menjadi korban bullying seniornya di Polres Mojokerto. "Dia merasa tertekan dengan ulah kapolres juga, karena sering memanggil dia di luar jam-jam tugas," kata dia.
Bahkan, Syariefuddin membeberkan, ada satu kejadian yang membuat Rani sakit hati. Pada suatu hari, saat Rani tengah mengukur baju dinas dengan tukang jahit di sebuah ruangan, ada kapolres beserta wakil-wakilnya. Akhirnya, kapolres sendiri yang mengambil alih mengukur baju Rani.
"Ini kan tidak pantas. Masa seorang kapolres mengukur baju Rani sambil menjamah-jamah," ungkapnya. Keberadaan Rani, menurut pamannya, ada di sebuah rumah di Jakarta. Saat ini, kondisi Rani sedang mengalami depresi berat, sehingga harus didampingi dokter ahli jiwa.
Ujung Tombak
Cakupan peran wanita di institusi kepolisian atau yang dikenal dengan sebutan polisi wanita (polwan) dalam perkembangannya hampir menyamai profesi yang identik dilakoni kaum adam. Mulai dari tugas yang ada pada lingkup kantor-kantor kepolisian sampai dengan misi di lapangan, keberadaan para polwan pun tidak luput dilibatkan pada berbagai tugas.
Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane menilai peran polwan penting untuk menjadi ujung tombak di kantor kepolisian mana pun pada sektor wilayah. Maraknya kasus kejahatan baik korban atau pelakunya wanita menjadikan keberadaan polwan perlu ditambah, khususnya di kantor polisi sektor wilayah (polsek) yang memiliki peran penting pengamanan suatu wilayah.
"Untuk itu ke depan Polri perlu melakukan penambahan jumlah polwan untuk di tempatkan di polsek-polsek. Sebab selama ini di polsek jarang sekali ada polwan, padahal polsek adalah ujung tombak kepolisian," kata Neta.
Mengapa demikian, lanjut Neta, apabila ada suatu kasus kejahatan, baik korbannya atau pelakunya wanita, kasus tersebut akhirnya harus dilimpahkan di Polres. Hal ini menurut Neta terjadi karena kurangnya keberadaan polwan di Polsek yang ada.
"Akibat tidak adanya polwan di polsek, wanita-wanita yang menjadi tersangka kejahatan diproses di polres. Padahal di banyak daerah, jarak polres cukup jauh dari polsek," ujar Neta.
Neta mengkritik Polri dinilai masih kurang memanfaatkan peran polwan. Strategi Polri dalam memanfaatkan keberadaan polwan menurutnya masih belum maksimal. "Padahal ada beberapa polwan yang punya prestasi di reserse, seperti Kompol Marta mantan Kapolsek Johar Baru," jelasnya.
Pengamat Kepolisian dari Universitas Indonesia, Bambang Widodo Umar, menghargai kesetaraan peran wanita yang sudah ada di institusi kepolisian. Berbagai fungsi, lanjutnya, seperti di satuan lalulintas, reskrim, intel, dan lainnya sudah mulai dilakoni seorang polwan.
"Saya melihat polwan sudah cukup maju, kepolisian mendayagunakannya sampai di pucuk pimpinan. Yang perlu ditambah mungkin masalah pengetahuan polwan berkaitan masalah psikologi atau kriminologinya melalui pendidikan lagi," ujar Bambang.
Misalkan dalam fungsi penyelidikan kasus kejahatan terhadap wanita, Bambang mengatakan pengetahuan yang baik seorang polwan akan meningkatkan juga relasi dan komunikasi dengan korban.ins
Asal Usul Korupsi Polisi
Lagi-lagi berita korupsi polisi. Padahal berita kasus dugaan korupsi pengadaan simulator SIM senilai Rp 3 miliar oleh Mantan Kepala Korlantas Irjen Djoko Susilo belum reda. Tapi baru-baru ini publik kembali dihebohkan video polisi lalu lintas korupsi di Bali.
Lebih ‘hot’ berita  Aiptu Labora dibekuk tim gabungan dari Polda Papua dan Bareskrim Polri saat mengunjungi Kantor Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Sabtu malam 18 Mei kemarin.
Pengusutan kasus Aiptu Labora berawal dari laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) yang menemukan kecurigaan atas transaksi rekeningnya yang mencapai Rp 1,5 triliun. Diduga uang dalam rekening tersebut berasal dari praktik penimbunan BBM dan penyelundupan kayu.
Nah, ribut-ribut berita polisi korupsi ini, ada baiknya kita mengetahui asal usul korupsi polisi. Menurut Guru Besar Sosiologi Hukum Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar, karena banyak kasus korupsi, kondisi kepolisian menjadi tidak normal.
"Seharusnya mereka menjadi contoh. Pengayom, menjaga keamanan, bukan meminta uang. Fenomena ini merupakan kondisi tidak normal," kata dia.
Bicara sejarah Bambang memang mengaku tidak faham detail kasus-kasus korupsi di instansi penegak hukum itu. Dia hanya mengatakan penyakit korupsi itu cukup lama menjangkiti intitusi, dan tampak sulit disembuhkan hingga kini.
Pada Tahun 2004, seperti ditulis Bambang dalam artikel yang dimuat Koran Sindo beberapa waktu lalu, Gubernur PTIK Irjen Pol Farouk Muhammad pernah mendorong mahasiswa PTIK Angkatan 39 A melakukan penelitian fenomena korupsi di lingkungan Polri.
Hasilnya, penyakit korupsi diidentifikasi telah merambah bidang operasional maupun pembinaan. Adapun bentuk korupsi; ada korupsi internal dan eksternal. Korupsi internal dilakukan petugas dengan tidak melibatkan masyarakat umum. Bentuk korupsi ini menyangkut kepentingan pelaku dalam lingkup kedinasan, tidak menyentuh langsung kepentingan publik.
Contohnya korupsi jual-beli jabatan (purchase of position), korupsi penerimaan menjadi anggota polisi (recruitment), korupsi dalam seleksi masuk pendidikan lanjutan, korupsi dalam pendistribusian logistik dan penyaluran dana keuangan.
Berikutnya korupsi eksternal, yaitu korupsi melibatkan kepentingan masyarakat secara langsung. Contohnya korupsi mendamaikan kasus perdata yang dianggap pidana, tidak melakukan penyidikan secara tuntas suatu kejahatan, pungutan pada penerbitan pelbagai bentuk surat SIM, SCTK, STNK, BPKB, surat laporan kehilangan barang dan lain-lain.
Selanjutnya Bambang mengutip Maurice Punch (1985) dalam buku Police Organization. Punch mengatakan, korupsi polisi terjadi karena mereka menerima atau dijanjikan keuntungan yang signifikan, di antaranya; untuk melakukan sesuatu yang ada dalam kewenangan, melakukan sesuatu di luar kewenangan, melakukan diskresi legitimasi dengan alasan tidak patut, dan menggunakan cara di luar hukum untuk mencapai tujuan.
Sementara itu, Benedict Anderson dalam bukunya berjudul 'The Ideal of Power in Javanese Culture' (1972), mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah terjadi sebelum Belanda menjajah Indonesia. Bahkan ada yang bilang VOC bangkrut pada awal abad 20 akibat korupsi yang merajalela di semua lini, termasuk kantor keamanan atau polisi.
Setelah proklamasi kemerdekaan banyak petinggi Belanda kembali pulang. Posisi kosong mereka kemudian diisi oleh kaum pribumi pegawai pemerintah Hindia Belanda (ambtenaar) yang tumbuh dan berkembang di lingkungan korup. Kultur korupsi tersebut berlanjut hingga masa pemerintah Presiden Soekarno, Orde Lama dan Presiden Soeharto, Orde Baru.
Periode orde baru tidak banyak kasus korupsi para jenderal terkuak. Namun demikian, Rum Aly, dalam bukunya berjudul Titik Silang Jalan Kekuasaan Tahun 1966 terbitan Kata Hasta Pustaka, Jakarta, I Juli 2006, sempat menulis kasus korupsi jumbo pejabat polisi yang tercatat pertama kali pada akhir 1970-an yang dilakukan Letnan Jenderal Siswadji bersama colega para jederal yang menggerogoti uang institusi hingga Rp 44 miliar.
Setelah itu kasus-kasus korupsi melibatkan pejabat kepolisian terus mencuat hingga sekarang. Sebelum dugaan kasus korupsi Irjen Djoko timbul, kasus korupsi lebih dulu menyeret Jendral Susno Duadji, Perwira Polisi Edmond Elyas, Raja Erizman, Suyitno Landung dan Samuel Ismoko.mrd

Perwira Polisi Pukul Perempuan di Tempat Hiburan


Ilustrasi polisi todongkan pistol | KOMPAS IMAGES
JAKARTA, KOMPAS.com - Diduga gara-gara melepas tembakan dan memukul seorang perempuan, SS (36), menggunakan gagang senajata api di tempat hiburan, Ajun Komisaris HP, Senin (30/1/2012) diperiksa di Bidang Propam Polda Metro Jaya.
"Belum jelas mengapa ia membuang tembakan dan memukul seorang perempuan. Dia sekarang masih menjalani pemeriksaan, tidak tertutup kemungkinan dia ditahan," kata Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, saat dikonfirmasi, Senin (30/1/2012) siang.
Menurut Rikwanto, pimpinan Polda Metro tidak akan mentolerir setiap anggotanya yang bertindak diluar kepatutan, apalagi sampai membuang tembakan segala di tempat hiburan.
"Kami juga belum jelas, apa hubungan dia dengan perempuan itu. Namun mereka duduk dalam satu meja di tempat hiburan itu, dengan beberapa orang lainnya,," katanya.
Penangkapan dan pemeriksaan terhadap HP berawal dari laporan seorang perempuan, SS. Perempuan itu teman satu meja HP di kafe GP di kawasan Kembangan, Jakarta Barat. Di meja itu pun ada seorang teman HP.
SS melapor ke Polda Metro Jaya pada Minggu (29/1/2012) malam, telah dipukul HP dengan gagang senjata api. Akibatnya, kening korban luka robek.
SS juga melapor bahwa HP dalam marahnya melepaskan tembakan, namun tidak ada orang yang terluka terkena peluru.

Akibat Polisi Arogan,Mapolres OKU Diserbu dan Dibakar TNI Hingga Ludes



PALEMBANG (voa-islam.com) - Markas Polres Baturaja, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan, diserang dan dibakar oleh puluhan orang berseragam tentara, Kamis (7/3/2013), pukul 07.30. Menurut informasi, sekitar 95 anggota TNI itu menyerbu Polres OKU dengan mengendarai sepeda motor dan truk.
Kejadian diduga buntut dari penembakan anggota kepolisian yang menewaskan seorang anggota anggota TNI Angkatan Darat Bataliyon Armed 15 Kodam II Sriwija, Pratu Heru yang tertembak oleh anggota Polres OKU pada 23 Januari lalu.
Puluhan orang berseragam loreng hijau tersebut memblokir jalan-jalan menuju Markas Polres Baturaja. Mereka juga menyerang anggota kepolisian dengan pukulan, tendangan, serta senjata tajam sejenis pisau atau sangkur.
Diberitakan, empat polisi terluka saat terjadi pembakaran Markas Polres Ogan Komering Ulu (OKU), Kota Baturaja, Sumatera Selatan, oleh puluhan anggota TNI dari Yon Armed 15. Keempatnya mengalami luka tusuk. Dua di antaranya kini masih kritis dan dirawat di Palembang. "Luka-luka empat orang, dua parah dan dirawat," Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis.
Kejadian bermula, anggota TNI Pratu Heru diduga melakukan pelanggaran lalu lintas. Anggota Satuan Lalu Lintas Polres OKU hendak menindaknya, Heru tidak menghiraukan bahkan tetap melanjutkan perjalanan. Dalam pengejaran, Heru ditembak oleh Polantas tersebut."Rencananya akan unjuk rasa damai terkait temannya yang tertembak, tapi jadi tidak terkendali," ujar Suhardi.
Saksi mata memperkirakan jumlahnya sekitar 100 orang. Warga sekitar, Gustin Moeslimi Singajuru (41), mengatakan, hingga siang kemarin, gedung kantor Polres Ogan Komering Ulu masih dalam kondisi terbakar meski api sudah mulai padam. "Sebagian besar sudah habis terbakar," katanya.
Informasi sementara, enam anggota kepolisian Polres OKU terluka tusukan. Puluhan orang berseragam itu juga menghalau anggota Polisi Militer yang akan mencegah aksi mereka serta melarang mobil pemadam kebarakan mendekat untuk memadamkan api.
Dua pos polisi sektor juga menjadi sasaran perusakan. "Suasana panik dan tegang, warga sekitar tak ada yang berani mendekat," kata Gustin menambahkan. Pihak Kodam II/Sriwijaya maupun Kepolisian Daerah Sumsel belum memberi keterangan.
Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Suhardi Alius menjelaskan, awalnya akan ada aksi damai terkait kasus anggota TNI Pratu Heru yang tertembak beberapa waktu lalu oleh anggota Polres OKU."Rencananya akan unjuk rasa damai terkait temannya yang tertembak, tapi jadi tidak terkendali," ujar Suhardi.
Berdasarkan informasi, para anggota TNI datang dengan menggunakan motor dan mengenakan seragam. Belum diketahui pasti jumlah korban di lokasi. Sementara itu, berdasarkan pantauan Kantor Berita Antara, akibat penyerangan dan pembakaran Mapolres OKU yang berada di pusat Kota Baturaja itu, suasana kota setempat mencekam dan sejumlah aktivitas warga terganggu.
Seorang saksi mata yang pagi itu hendak mengurus surat kelakuan baik, mengaku terkejut melihat ada keramaian dan gedung Mapolres OKU terbakar. Saksi itu hanya melihat beberapa anggota Polres OKU yang berlarian dengan kondisi luka-luka. Banyak polisi mengungsi ke kantor polisi militer di dekat mes dosen Universitas Baturaja dan masyarakat takut beraktivitas ke luar rumah karena khawatir menjadi sasaran. Desastian/dbs

AKU BERLINDUNG KEPADA ALLAH DARI TIPU DAYA POLISI YANG TERKUTUK...


Jumat, Mei 28, 2010

Inilah 10 kelakuan polisi yang dibenci rakyat




berita-beritadotcom (Cianjur, Jawa Barat): Ada sekitar 10 point, sikap dan tingkah laku polisi yang dibenci oleh rakyat. Di antaranya, polisi yang menilang rakyat lalu masuk pos dan melakukan 86 atau damai, polisi yang suka mabuk-mabukan, polisi yang suka berjudi.

Demikian ditegaskan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Barat (Kapolda Jabar) Brigradir Jendral Polisi Tubagus Anis Angkawijaya disela kegiatan Silaturahmi Tasyakuran Para Ulama, Tokoh Masyarakat, Ormas serta LSM se Kabupaten Cianjur, di Islamic Center Syuhada Kuwait, Kampung Padarincang, Desa Palasari, Kecamatan Cipanas .Kabupaten Cianjur, Selasa (13/11/2012).

"Hal lainya tindakan polisi yang dibenci rakyat diantaranya polisi yang suka selingkuh, polisi yang merekayasa kasus, serta polisi yang gemuk dan masih banyak lagi. Pokoknya saya akan melaksanakan tugas dan menghilangkan sikap dan tingkah laku polisi yang dibenci rakyat, tetapi jika rakyat ada yang menemukan seperti itu, tolong laporkan ke saya," pinta Kapolda.

Menurut Kapolda, sebenarnya polisi itu adalah sahabat rakyat, apa yang di inginkan rakyat, berarti harus melaksanakan keinginan rakyat. Polda Jabar akan berupaya menghilangkan kesan polisi yang di benci oleh rakyat.

"Saya akan menghilangkan apa yang dibenci oleh rakyat. Polisi adalah sahabat rakyat, kalau di inginkan rakyat, berarti harus melaksanakan inginnya rakyat. Polisi itu harus mengayomi, melindungi, mendidik rakyat. Jangan sampai mendidik tapi menghardik, merangkul tapi memukul, kalau mau jadi penguasa jangan jadi sok kuasa," tegas Kapolda.

Menurutnya, banyak polisi di benci oleh rakyat, namun, tidak sedikit polisi juga di cari oleh rakyat. "Dibenci tapi di cari, contohnya jika ada rakyat kecopetan, pasti yang di cari polisi," paparnya

Kepolisian Lembaga Terkorup




Sesuai hasil survey TII, Kepolisian adalah lembaga terkorup, pengumuman ini membuat marah, emosi dan dendam Kepolisian thd TII dan mantan Rektor PTIK.
Sebenarnya tidak perlu emosi,marah dan dendam, buktikan saja dgn perilaku dan perbuatan yg terpuji, yg dapat dilihat dan disaksikan langsung oleh masyarakat.
Dan akar permasalahan yg membuat citra, image dan kewibawaan Kepolisian sangat rendah dimata masyarakat adalah Polantas, karena Polantas adalah garda terdepan pembangunan image dan citra Kepolisian.
Karena sampai saat ini, Polantas masih saja suka menjebak, main petak umpet, lebih baik menerima uang daripada melakukan pembinaan kedisplinan berlalu lintas, selalu mengancam tilang, tetapi tidak mau memberikan form bukti tilang warna biru. Tidak pernah mensosialisasikan form bukti tilang warna biru.
Kalau saja perilaku, tingkah laku dan perbuatan Polantas di diawasi, dikontrol dan dibina secara baik dan benar dengan penghargaan dan sanksi yg tegas niscaya hasil survey berikutnya Kepolisian sudah bukan lagi lembaga terkorup.

Institusi Kepolisian” Busuk & Paling Terkorup


Sumut ( Berita Monitor)
                 Apa yang dijabarkan Prtof JF Sahetapy bahwa Institusi Kepolisian “Busuk & paling  Terkorup” menjadi kenyataan. Rakyat dan beberapa element masyarakat serta Komisi III DPR RI mendukung langkah KPK menggulung tikus tikus gede berdasi didalam Institusi Kepolisian Republik Indonesia.
                Bukan tanggung Korupsi Simulasi SIM Korsatlantas, mencapai ratusan miliar rupiah. Jenderal Polisi bintang dua Djoko Soesilo, merupakan biang korupsi dibantu beberapa orang Pamen Polri, serta dua orang direktur perusahaan . Salah satunya merupakan Direktur Perusahaan Sub Kontraktor.
                 Mabes Polri mulai gerah seperti cacing kepanasan, sepertinya membuat tragedi kedua pertarungan “ Cicak dan Buaya “. Para petinggi Polri ketakutan , seandainya Jenderal berbintang dua Djoko Soesilo , akan nyanyi dihadapan KPK. Sudah barang tentu Djoko Soesilo tidak akan mau menanggung beban sendirian.
                Korupsi Simulator SIM di Korsatlantas menilap uang rakyat mencapai ratusan miliar ini,bukan rahasia umum kalau  korupsi berjamaah didalam tubuh Mabes Polri. Sehingga Mabes Polri awalnya ketika KPK melakukan penggeledahan serta mengambil dokumen barang bukti di Korlantas, ketika hendak keluar ditahan petugas ke Polisian. Hebat enggak beraninya Polisi menahan KPK beserta berkas dokumen yang dicurigai.
               Tentu ada apa apanya, mungkin seperti cara mereka selama ini didalam mendapat suatu kasus kalau dapat dalam istilahnya dilapan enamkan. Atau ada Intruksi dari petinggi Polri agar menahan dokumen yang diambil KPK, tidak pelak lagi kalau sang petinggi Polri merupakan Biang Kerok Busuk dan paling terkorup.
              Polri panik, ngoceh dihampir seluruh media massa, media elektronik, menuding KPK melanggar MOU. Polisi sebagai penegak hukum merusak hukum selama ini KUHP diartikan (Kasi Uang Habis Perkara). Macam mana Polri tidak paling terkorup, masuk polisi saja nyuap ratusan juta rupiah, tapi suap masuk Polri ini ditepis habis habisan oleh para petinggi Polri. Memang tidak dapat dibuktikan, tapi dapat dirasakan ada permainan suap.
              Ayo KPK rakyat mendukungmu, jangan kepalang tanggung buktikan bongkar kebusukan serta salah satu Institusi Polri paling terkorup. Jangan takut hidup mati itu urusan Allah, bongkart semua rekening gendut Polisi. Mengapa mesti takut apa dikarenakan Institusi Kepolisian dibawah Kepresidenan. Rakyat tidak akan tinggal diam pasti menentang kebijakan Presiden yang tak Bijak, apabila membela Institusi Kepolisian.
              Seharusnya Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono tanggap, cepat bertindak terhadap Institusi Kepolisian, segera menginstruksikan Korupsi Simulator SIM Korsatlantas Mabes Polri, khusus ditangani KPK. Anehnya Mabes Polri cq Kabagreskrim juga melakukan pemeriksaan terhadap anggotanya yang terlibat, tapi tidak dengan Jenderal bintang dua Djoko Soesilo. Pak Polisi mana mungkin Jeruk makan Jeruk, harusnya koperaktif membantu KPK membongkar kasus korupsi didalam tubuh Institusi Kepolisian, kalau para petinggi Polisi jujur dan bersih dari korupsi. (black hunter)

33 Polisi diperiksa dalam dugaan korupsi simulator SIM


Reporter : Putri Artika R




Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah Kantor Korps Lalu Lintas (Korlantas) Polri untuk mengembangkan kasus dugaan korupsi pengadaan simulator roda dua dan roda empat untuk pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM).
Mabes Polri juga sebenarnya telah mengendus kejanggalan dalam proses pengadaan simulator. Mereka telah memeriksa 33 anggota polisi terkait mark up. Hal ini dilakukan sebelum KPK melakukan penggeledahan di Korlantas.

"Dari Mabes sendiri sudah ada 33 pihak yang diambil keterangan," kata Karo Penmas Mabes Polri Kombes Pol Boy Rafli Amar dalam jumpa pers bersama di KPK, Selasa (31/7).

Boy menambahkan Mabes Polri tidak menghalang-halangi penyidikan KPK terkait kasus yang terjadi tahun 2011 ini. Menurutnya KPK adalah mitra polisi dalam pemberantasan korupsi. Sedangkan mengenai ketegangan yang timbul, polisi menyebut hanya masalah perbedaan pendapat saja. Polisi kini sudah mengizinkan KPK membawa barang bukti yang didapatkan dari Korlantas.

"Kita memberikan support," kata Boy.

Untuk membahas masalah ini lebih lanjut, pimpinan KPK dan Pimpinan Polri akan bertemu sore nanti. Diharapkan tidak ada perbedaan pendapat mengenai kasus mark up simulator SIM tersebut.

Dalam kasus ini, KPK menetapkan Irjen DS sebagai tersangka. Nama DS sendiri diduga mengacu pada Irjen Djoko Susilo. Djoko Susilo adalah mantan Kepala Korlantas Polri yang kini menjadi Gubernur Akademi Kepolisian Semarang. Djoko diduga menyalahgunakan kewenangannya untuk melakukan mark up.

Penggeledahan yang berlangsung 13 jam ini sempat tegang. Tiga pimpinan KPK harus turun langsung ke lokasi.
(mdk/ian)

Djoko Susilo Bukan Koruptor Tapi Perampok!!!


Perkembangan kasus simulator SIM ternyata melebar kemana-mana. Djoko Susilo yang mantan Kakorlantas kini diam seribu bahasa. Tak ada lagi kriminalisasi Novel Baswedan, menggrebek KPK, bela-belain Djoko Susilo yang dianggap bersih setelah KPK menunjukkan aset-aset Djoko Susilo.
Pengacara DS, Juniver Girsang juga seperti terengah-engah. Argumentasi menjawab langkah konkrit KPK menyita aset makin tak masuk akal. Belum terkait rencana KPK memanggil Anas Urbaningrum Kamis ini sebagai saksi. Saya tak mengikuti intens tapi turut terkejut agenda KPK memanggil Anas.
Kasus yang awalnya hanya simulator SIM kini berkembang menjadi TPPU (Tindak Pidana Pencucian Uang) yang diduga dilakukan Jenderal Polisi Bintang Dua. Polisi, sekali lagi DS itu polisi yang harusnya paham dan menegakkan hukum malah berlaku gila melanggar aturan-aturan hukum.
Mana itu yang sejak awal bela-bela DS. Geregetan saya membaca perkembangan kasus ini. Di Jakarta soal warga miskin meninggal gara-gara tak tersedia kamar, eh ini gelap mata ambil uang rakyat. Sudah berapa bulan tuh si DS ditahan, proses pelacakan asetnya belum juga kelar. Juniver berkelit soal penyitaan aset katanya KPK harus melihat sejak kapan aset itu didapatkan.
Lha kalau harus diklarifikasi dulu, pasti keburu dijual. Emang dia mau gantiin kerugian negara? Lihat saja aset yang disita, puluhan rumah mewah yang harganya selalu diatas ratusan juta hingga miliar. Mobil-mobil mewah juga sudah di dapat. Eh masih ada lagi SPBU yang tak cuma satu. Tanah juga luasnya berhektar-hektar. Bagaimana bisa seorang polisi memiliki itu semua?
Belum lagi soal jumlah istri yang tak cuma 1 tetapi 3 orang. Tak tanggung-tanggung, proses pernikahannya pun disertai data palsu. Dari mulai nama, status hingga barangkali alamat serta pekerjaannya apa. Seharusnya korps polisi malu punya perwira seperti itu.
Bagi saya, Djoko Susilo itu bukan lagi koruptor. Meski status hukumnya belum jelas namun dari proses pernikahan, data diri yang diajukan dalam pernikahan, itu sudah menjadi landasan kuat Kapolri memecat secara tidak hormat DS sebagai polisi. Sebab DS bukan koruptor tapi PERAMPOK!!!